logo trikamedia white landscape

Membangun Personal Branding di Tempat Kerja, Mulai Dari Mana?

personal branding

Layaknya di dunia komersial, sebuah merek tidak akan punya nilai apabila konsumen tidak menyadarinya. Produk A tidak akan laris di pasaran jika ternyata konsumen tidak tahu akan kelebihan produk tersebut.

Begitu halnya di dunia kerja. Orang tidak akan tahu kamu adalah seorang fotografer yang jago, jika kamu tidak menunjukkannya. Orang tidak akan tahu bahwa kamu adalah programmer handal jika kamu tidak membuat proyek yang bermanfaat.

Jadi, untuk bisa ‘tampil’, terlihat, atau orang lain mengenalimu sebagai pribadi dan seseorang yang punya banyak nilai, kamu perlu membangun personal branding, atau merek secara personal.

Berikut adalah langkah-langkah taktis untuk membangun personal branding, berdasarkan sumber dari Harvard Business Review.

Langkah pertama

Cari tahu apa yang mendorongmu

Jika kamu bingung harus mulai dari mana, maka kamu bisa menjawab beberapa pertanyaan ini:

Apa yang memotivasimu untuk bangun di pagi hari dan berangkat kerja?

Keterampilan atau bakat apa yang paling kamu banggakan?

Keterampilan apa yang membuatmu penasaran tetapi belum dikembangkan?

Tugas atau proyek seperti apa yang memberi energi bagimu?

Mata pelajaran apa yang paling menarik minatmu?

Sepuluh tahun dari sekarang, kontribusi apa yang ingin kamu berikan kepada dunia?

Apa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang paling kamu kagumi?

Kamu dapat menulis jawabannya dan perhatikan apakah ada tumpang tindih atau keselarasan yang dapat kamu temukan. Jawaban tersebut dapat membantumu untuk mengidentifikasi, apakah nilaimu, keyakinan, atau tujuan yang saat ini mendorongmu untuk bergerak maju.

Langkah kedua

Menyelaraskan nilaimu dengan tujuan organisasi

Kamu dapat mencoba untuk lebih peka dengan orang-orang dan lingkungan yang ada di sekitar tempat kerjamu. Amati orang-orang yang sukses dan kamu kagumi di perusahaan. Apa kekuatan mereka yang paling berharga? Bagaimana perilaku mereka membantu bisnis bergerak maju?

Sekarang, kembali ke langkah pertama, dan renungkan tujuan dan nilai yang kamuidentifikasi. Apakah kamu melihat adanya keselarasan antara keahlianmu saat ini dan kualitas yang dihargai oleh organisasimu? Jika ya, fokuslah pada pengembangan bidang-bidang tersebut. Jika tidak, Anda mungkin perlu memperluas kompetensimu.

Contoh, kamu adalah salah satu anggota tim divisi Research and Development di industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods). Dari hasil pengamatanmu, perusahaanmu secara teratur menghadirkan produk-produk baru yang paling mutakhir ke pasar dan menghargai para pemimpin yang menantang status quo dan berpikir di luar kebiasaan. Bagaimana kekuatanmu saat ini selaras dengan tujuan perusahaan? Kamu melihat dirimu sebagai orang yang kreatif, suka memecahkan masalah yang kompleks. Oleh karena itu, kamu dapat memilih kata kunci “inovator” sebagai atribut merek pribadi utamamu.

Langkah berikutnya, kamu perlu mengidentifikasi sifat dan perilaku spesifik yang perlu dikembangkan dan ditunjukkan secara konsisten oleh seorang inovator. Ini bisa berupa karakter, solusi, ide dan masukan dari berbagai sumber, hingga umpan balik dari orang lain ketika diskusi.

Pada akhirnya, tujuanmu adalah menyelaraskan minatmu dengan nilai-nilai inti organisasi dan menggunakan semangat tersebut untuk mendorong pertumbuhan profesional dan memperkuat merek pribadimu.

Langkah ketiga

Memetakan siapa saja pemangku kepentingannya

Kamu dapat membuat peta pemangku kepentingan yang dapat membantumu untuk mengenali pihak-pihak yang memberi pengaruh di organisasimu. Kemudian, kamu dapat menyusun strategi untuk bisa terhubung dengan mereka, baik secara formal atau informal. Kamu bisa menuliskan daftar sederhana orang-orang yang ingin kamu kenal atau orang-orang yang dapat membantumu maju dalam organisasi. Kamu dapat mencari tahu tentang minat mereka, tantangan profesional, masalah yang mereka coba selesaikan, keterlibatan dalam jaringan alumni, dan lain-lain.

Langkah keempat

Kamu harus terlihat

Dari daftar orang-orang yang ingin kamu ‘dekati’, kamu perlu menjangkau mereka. Jika kamu masih baru, mungkin rasanya akan canggung, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan. Contohnya menghubungi atasan, kolega senior, atau rekan kerja satu tim yang sudah lama bekerja di perusahaan untuk membantumu melakukan beberapa perkenalan.

Saat kamu terhubung dengan mereka, lihat apakah mereka bersedia bertemu untuk minum kopi atau makan siang sebentar. Kamu dapat menyusun pertanyaan dengan meminta nasihat mereka tentang suatu topik dalam bidang keahlian mereka, atau bahkan mungkin menyebutkan kesamaan dalam latar belakang, misal hobi, aspirasi, atau afiliasi alumni yang sama.

Jika kamu memiliki gagasan atau ide yang menarik, tidak perlu takut untuk menceritakannya. Kamu dapat menyoroti keahlian, minat, dan bagaimana hal tersebut dapat bermanfaat untuk mereka. Nyatakan apa saja yang ingin kamu capai, dan paling penting bagaimana hal tersebut dapat membuat perbedaan dalam organisasi. Contohnya, kamu ingin terhubung dengan Wakil Presiden Pemasaran di perusahaan, dan menuliskan pesan berikut:

Hai Jennifer! Pada pertemuan balai kota baru-baru ini, Anda berbicara tentang pentingnya mendapatkan wawasan pelanggan yang lebih baik untuk membantu kami mengembangkan dan melaksanakan strategi bisnis kami dengan lebih efektif. Saya tertarik dengan analisis data dan telah bekerja sebagai analis selama tiga tahun terakhir. Saya ingin berbagi beberapa ide tentang penggunaan visualisasi data interaktif untuk menerjemahkan kumpulan data menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti untuk kampanye pemasaran digital kami yang ada. Bisakah kita menjadwalkan kopi virtual selama 20 menit untuk berdiskusi?

Kuncinya adalah menunjukkan ketertarikan yang tulus pada kolega. Apa yang mereka pedulikan dan masalah apa yang ingin mereka selesaikan. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan kekuatanmu yang dapat menjadi simbiosis mutualisme bagi mereka.